pengertian-konservasi

Konservasi : Pengertian, Tujuan, Manfaat, Jenis Dan Contoh

Definisi konservasi

pengertian-konservasi

Konservasi tersebut adalah berbagai upaya yang dilakukan di bidang perlindungan lingkungan, dengan tetap memperhatikan manfaat yang dapat atau dapat diperoleh di masa yang akan datang, atau bahkan saat ini, yaitu cara keberadaan masing-masing komponen lingkungan memberikan kontribusi dimasa yang akan datang. menggunakan.

Dengan kata lain, konservasi dapat atau dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk melestarikan alam. Konservasi juga bisa disebut sebagai konservasi atau perlindungan. Dalam pandangan literal bahwa konservasi berasal dari kata bahasa Inggris, “konservasi” yang artinya konservasi atau perlindungan.

Pengertian konservasi menurut para ahli

Untuk memahami sesuatu tentang konservasi, kita dapat merujuk pada berbagai pendapat para ahli, di antaranya sebagai berikut:

1. Mochamad Hadi

Konservasi ini merupakan salah satu cara menghemat dalam pemanfaatan sumber daya alam (SDA) berdasarkan hukum alam.

2. IUCN

Pelestarian ini merupakan suatu kegiatan atau kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kehidupan manusia dan sumber daya alamnya agar dapat dilestarikan, atau dilestarikan, atau juga dilestarikan untuk kehidupan.

3. Alison Backer

Konservasi merupakan proses yang dilakukan secara terus menerus terhadap sumber daya alam agar dapat bertahan atau dimanfaatkan oleh generasi sekarang atau yang akan datang.

4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990

Konservasi sumber daya manusia hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan dengan hati-hati guna menjamin kelangsungan persediaannya dengan tetap menjaga dan meningkatkan mutu keanekaragaman dan nilainya.

5. Randall

Konservasi ini merupakan sebaran optimal SDA (Sumber Daya Alam) antar waktu (lintas generasi) dan sosial.

6. WCS

Konservasi ini merupakan salah satu bentuk pengelolaan penggunaan dan pemanfaatan biosfer oleh umat manusia yang menawarkan keuntungan besar dan dapat atau juga dapat diperbarui untuk semua jenis generasi yang akan datang.

7. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Konservasi ini adalah segala pengelolaan yang dilakukan secara bijak dalam SDA (Sumber Daya Alam) sehingga dapat atau dapat menjamin kelangsungan pasokan serta kualitas nilai dan keanekaragamannya.

8. Adishakti

Pelestarian ini merupakan proses mengolah tempat, ruang, benda sehingga memiliki atau memiliki makna budaya yang dapat atau dapat dilestarikan dengan mengorientasikan diri pada sumber daya alam.

9. Margaretha

Konservasi ini mencakup segala aktivitas atau aktivitas yang dilakukan untuk melindungi SDA (Sumber Daya Alam) dari kehancuran, kerusakan, kepunahan, dll.

10. Narton

Konservasi ini merupakan adaptasi dari mekanisme alam untuk tujuan kehidupan.

Sejarah konservasi di Indonesia

Sebelumnya, pada abad ke-15, kegiatan atau kegiatan konservasi tersebut dilakukan pada era Kerajaan Nusantara yang bertumpu pada tradisi sakral. Pada saat itu, unsur magis seperti kepercayaan mistik dan kekuatan alam sangat terasa dalam semua kemungkinan elemen kehidupan manusia.

Banyak sekali pantangan saat itu. Misalnya, dilarang mengambil jenis pohon atau hewan tertentu, dan dilarang memasuki tempat-tempat seperti rawa, danau, hutan, dan gunung.

Larangan tersebut secara tidak langsung merupakan langkah konservasi yang dilakukan oleh pemerintah kota saat itu.

Konservasi di Indonesia muncul dari keinginan akan SDA (Sumber Daya Alam) yang dimiliki oleh naturalis Belanda milik Indonesia. Berikut sejarah pelestarian alam di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda:

Pada tahun 1910, naturalis Belanda tidak setuju apakah ada kebijakan atau tindakan kolonial yang merusak ekosistem dan kemudian melahirkan Undang-Undang Perlindungan Mamalia Liar dan Burung Liar.
Pada tanggal 22 Juli 1912, Asosiasi Konservasi Alam Belanda untuk Hindia Timur didirikan di Bogor dengan ketuanya, SH Koorders, mengusulkan tempat dan segala jenis flora dan fauna tertentu untuk dilindungi. Lalu ada 12 lokasi yang akan ditetapkan sebagai cagar alam. Lokasinya ada beberapa danau di Banten, Pulau Krakatau serta Pulau Panaitan, Laut Pasir Bromo, Pulau Nusa Barung, Semenanjung Purwo dan Kawah Ijen.
Pada tahun 1916 diberlakukan peraturan dan Ordonansi tentang Monumen Alam, dan didirikan 43 monumen alam, salah satunya Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 1921.
Pada tahun 1937 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Natuur Bescherming afseling Ven’s Lands Flantatuin untuk mengawasi cagar alam dan cagar alam untuk flora dan fauna, termasuk pejabat administrasi dan anggaran.
Pada tahun 1940 dikeluarkan peraturan berburu Jawa Madura, sehingga kemudian terjadi pembagian tugas yaitu kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dikelola langsung dari kantor pusat hutan di Bogor. Cagar alam dan cagar alam lainnya dikelola oleh pengawas hutan provinsi.

Setelah Indonesia merdeka, upaya konservasi tidak berhenti sampai di situ. Berikut sejarah pelestarian alam di Indonesia pasca kemerdekaan:

  • Pada tahun 1947 Bali Barat ditetapkan sebagai cagar alam.
  • Tahun 1950 adalah adanya urusan pelestarian alam di departemen kehutanan dengan tugas pokok menangani perburuan badak di Ujung Kulon.
  • Pada tahun 1952 Badan Pelestarian Alam didirikan oleh Kebun Raya Bogor.
  • Pada tahun 1956, Bidang Konservasi pada Departemen Kehutanan, statusnya kemudian disingkat menjadi
  • Departemen Konservasi yang disingkat BPA, sehingga kemudian melalui organisasi vertikal penuh dari organisasi tersebut.
  • Tahun 1954 merupakan kerjasama dengan IUCN dan rehabilitasi cagar alam.
  • Tahun 1950-1959 adalah perampasan tanah yang dikuasai oleh pemerintah kota dari Departemen Kehutanan.
  • Pada tahun 1966 dibentuk Direktorat Jenderal Kehutanan yang masuk dan berada di bawah Departemen
  • Pertanian melalui surat, yaitu Keputusan Presiden Kabinet nomor 75 / II / Kep / 11/1966.
  • Pada tanggal 9 Maret 1967, susunan organisasi Departemen Kehutanan dibentuk berdasarkan Keputusan
  • Menteri Pertanian dengan nomor Kep./30/11/1966 dan juga dengan nomor Kep / 18/3 / 1967
  • Tanggal 25-28 November 1969 adalah Pertemuan Teknis IUCN ke-7 di New Delhi, India. Indonesia mengirim IDr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng dan Ir. Hasan Basjarudin.
  • Pada tahun 1974 kegiatan Direktorat Perlindungan dan Konservasi Alam ini berhasil menata kawasan lindung yang ada di Indonesia dengan bantuan FAO / UNDP dan LSM lainnya.
  • Pada tahun 1978 104 spesies hewan dinyatakan dilindungi
  • Tahun 1982 adalah Kongres Taman Nasional Dunia ke-3 di Bali, di mana Deklarasi Bali kemudian lahir.
  • Tahun 1983 adalah berdirinya Kementerian Kehutanan, hingga kemudian Direktorat Perlindungan dan
  • Konservasi Alam yang statusnya kemudian diubah menjadi Direktorat Jenderal Konservasi Hutan dan
  • Konservasi Alam disingkat PHPA.
  • Pada tahun 1985 tercatat 95 jenis mamalia, 6 jenis ikan, 28 jenis reptilia, 371 jenis burung, dan 20 jenis serangga terdaftar dan juga dilindungi oleh negara.

Metode konservasi

Teknik perlindungan tanah di Indonesia menargetkan tiga prinsip utama yaitu melindungi permukaan tanah dari dampak partikel hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah seperti menyediakan bahan organik atau bahkan meningkatkan penyimpanan air dan mengurangi laju aliran permukaan untuk menghambat material tanah dan unsur hara yang hanyut. (Agus et al., 1999).

Manusia memiliki keterbatasan dalam pengendalian erosi, sehingga perlu ditetapkan kriteria tertentu yang diperlukan untuk tindakan perlindungan tanah. Salah satu pertimbangan yang harus diperhatikan saat merancang teknik proteksi tanah adalah nilai batas erosi yang dapat atau masih dapat diabaikan (tolerable soil loss).

Jika tingkat erosi di tanah secara inheren lebih besar daripada tingkat erosi, yang dapat atau dapat diabaikan, tindakan perlindungan sangat diperlukan. Ketiga jenis teknik perlindungan tanah tersebut antara lain metode vegetatif, mekanis dan kimiawi yang pada prinsipnya mempunyai tujuan yang sama yaitu pengendalian laju erosi, namun efektifitas, persyaratan dan kelayakannya sangat berbeda. Oleh karena itu, pemilihan teknik konservasi yang tepat sangatlah penting.

Metode vegetatif

Teknik proteksi tanah yaitu vegetatif, setiap pemanfaatan tumbuhan atau vegetasi atau juga sisa tumbuhan yaitu sebagai media pelindung tanah terhadap penghambatan laju aliran permukaan, erosi dan juga perbaikan sifat-sifat tanah, baik sifat fisik, peningkatan kadar air secara kimiawi. / secara biologis. Tanaman atau sisa tanaman juga berperan sebagai pelindung tanah dari dampak tetesan air hujan atau limpasan dan juga meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. Teknik perlindungan tanah vegetatif yang dijelaskan adalah:

Reboisasi, wanatani termasuk rerumputan, budidaya strip, budidaya gang, tanaman penutup, sisa tanaman, penanaman aplikasi contoh meliputi rotasi tanaman, tumpangsari dan budidaya estafet.

Dalam pemanfaatannya, petani pada umumnya akan memodifikasi sendiri teknologinya sesuai dengan keinginannya dan lingkungan agroekosistemnya, sehingga teknologi konservasi tersebut kemudian akan terus berkembang di lapangan. Keunggulan dari sistem vegetatif ini adalah mudah digunakan, membantu melestarikan lingkungan, mencegah erosi dan juga menjaga limpasan permukaan, dapat atau dapat memperbaiki sifat tanah dengan mendaur ulang bahan organik tanaman dan juga meningkatkan nilai tambah bagi petani dari UE. Produk sampingan dari tanaman perlindungan alam ini.

Metode mekanis

Metode mekanis ini merupakan metode pengelolaan lahan kering (overland land) dengan menggunakan sarana fisik berupa tanah dan bebatuan sebagai alat pemeliharaan tanah. Tujuannya untuk memperlambat aliran air permukaan, mengurangi erosi, dan menyerap serta mengalirkan air permukaan (Seloliman, 1997). Termasuk dalam metode mekanis konservasi tanah dan air, termasuk pengolahan tanah. Pengolahan tanah ini adalah manipulasi mekanis tanah yang diperlukan untuk kemudian menciptakan kondisi tanah yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Tujuan utama mengolah lahan ini adalah untuk membuat permukaan akar yang baik, menyiapkan tempat untuk menanam benih, menghilangkan gulma, dan juga mengubur sisa-sisa tanaman (Arsyad, 1989).

Pengendalian erosi melalui tindakan teknis-mekanis merupakan upaya untuk menjaga kelestarian tanah dengan cara mengurangi kehilangan lahan di kawasan pertanian dengan cara mekanis tertentu. Sehubungan dengan upaya perbaikan tanah yang diupayakan secara mekanis, hal ini bertujuan untuk kemudian memperlambat arus permukaan dan mengambil serta melanjutkan distribusi arus permukaan dengan gaya erosi tanah yang tidak merusak.

Budidaya tanah menurut kontur adalah segala jenis budidaya tanah (seperti membajak, mencangkul dan meratakan) yang mengikuti garis kontur, sehingga terbentuk alur dan jalur dari gundukan tanah searah dengan kontur, begitu pula potong lereng. Alur-alur yang ada di tanah tersebut kemudian menghambat aliran air di permukaan dan mencegah terjadinya erosi, sehingga konservasi di daerah kering dapat atau dapat didukung. Keuntungan pertama dari pengolahan tanah menurut kontur ini adalah pembentukan penghalang aliran permukaan, yang memungkinkan pengambilan air dan juga menghindari transportasi darat. Oleh karena itu, pada iklim kering, pengelolaan lahan sesuai kontur ini juga sangat efektif untuk konservasi ini.

Dalam pembuatan teras-teras ini permukaan tanah yang landai kemudian dimodifikasi menjadi bertingkat-tingkat untuk kemudian mengurangi kecepatan arus permukaan dan untuk mempertahankannya serta menyerapnya, sehingga lebih banyak air yang masuk ke dalam tanah melalui proses infiltrasi (Sarief, 1986). ).

Menurut Arsyad (1989), fungsi pembuatan terras adalah untuk mengurangi panjang lereng dan menahan air, sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan serta memungkinkan penyerapan oleh tanah sehingga mengurangi erosi.

Metode kimia

Kestabilan struktur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang menentukan kepekaan tanah terhadap erosi. Yang dimaksud dengan metode kimiawi adalah upaya pencegahan erosi yaitu dengan menggunakan soil conditioner atau soil stabilizer untuk memperbaiki struktur tanah agar tanah tetap tahan terhadap erosi (Kartasapoetra & Sutedjo, 1985). Perbaikan tanah berdampak besar pada stabilitas agregat tanah. Efek jangka panjangnya adalah senyawa ini tahan terhadap mikroba tanah. Permeabilitas tanah meningkat dan erosi juga berkurang. Bahan ini juga meningkatkan pertumbuhan tanaman tahunan pada tanah liat yang berat (Arsyad, 1989).

Tujuan konservasi

Ada beberapa tujuan konservasi, diantaranya sebagai berikut:

  • Yang pertama adalah melestarikan atau melindungi semua jenis tempat yang bernilai tinggi agar tidak punah, hancur, atau berubah
  • Kemudian yang kedua bertujuan untuk mempertegas kembali penggunaan bangunan lama agar tidak terbengkalai. Ini berarti menghidupkan kembali fungsi bangunan yang telah atau sebelumnya telah dipindahkan dari fungsi lama ke fungsi baru.
  • Tujuannya adalah untuk melindungi segala jenis benda yang mempunyai nilai sejarah atau benda-benda di jaman dahulu dari kerusakan atau kehancuran yang disebabkan oleh faktor alam, mikroorganisme dan juga kimiawi.
  • Yang terakhir kemudian berfungsi untuk melindungi semua jenis cagar alam yang dapat langsung dibersihkan melalui pembersihan, perbaikan dan pemeliharaan baik secara fisik maupun langsung dari pengaruh segala macam faktor seperti faktor lingkungan yang dapat merusak benda-benda tersebut.

Manfaat konservasi

Kelestarian ekosistem menawarkan beberapa manfaat, antara lain sebagai berikut:

  • Sebagai perlindungan kekayaan ekosistem alam dan juga untuk menjaga segala jenis proses ekologi atau keseimbangan ekosistem yang lestari.
  • Upaya melindungi diri dari berbagai jenis flora dan fauna semakin maju dan diyakini hampir punah
  • Sebagai perlindungan ekosistem yang indah, menarik dan unik.
  • Dalam melindungi ekosistem dari kerusakan yang disebabkan oleh faktor alam, mikroorganisme dan lain-lain.
  • Dalam menjaga kualitas lingkungan agar bisa dilestarikan, dan sejenisnya

Dari segi ekonomi, manfaat konservasi meliputi:

  • Sebagai tindakan pencegahan terhadap kerugian dari sistem pendukung kehidupan, mis. B. Kerusakan hutan lindung, daerah resapan air dan lain-lain. Kerusakan lingkungan dapat atau dapat mengakibatkan bencana dan tentunya akan menimbulkan kerugian.
  • Dalam mencegah kerugian yang disebabkan oleh hilangnya sumber genetik yang terdapat pada Diflora yang bermanfaat baik sebagai bahan pangan maupun sebagai bahan sebagai produk obat.

Contoh konservasi alam

Di bawah ini adalah contoh pelestarian alam, diantaranya sebagai berikut:

1. Cagar alam

Cagar alam ini merupakan cagar alam yang keadaan alamnya memiliki kekayaan flora dan fauna yang melimpah, serta merupakan ekosistem yang sangat perlu dilestarikan dan dikembangkan secara alami.

2. Suaka Margasatwa

Apa yang dimaksud dengan cagar alam? berupa hutan cagar alam yang diperuntukkan sebagai habitat segala jenis satwa liar dan memiliki nilai unik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya, serta kekayaan atau kebanggaan bangsa untuk dilestarikan, dapat atau dapat dilakukan secara alami atau sengaja. .

3. Hutan bakau atau hutan bakau

Pengertian hutan mangrove atau hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di daerah berawa dengan air payau, karena hutan mangrove juga berada di pantai dan juga dipengaruhi oleh kondisi pasang surut air laut.

Keunggulan dari hutan mangrove ini kemudian diuntungkan dengan adanya sistem perakaran tumbuhan mangrove yang lebat, kompleks dan juga lebat serta dapat atau dapat menjelaskan segala macam residu dari bahan organik maupun sedimen yang terbawa air laut dari daratan. Dengan proses tersebut, air laut terjaga dan terjaga kejernihan serta kebersihannya. Melalui kemampuan atau kemampuan tidak langsung untuk melestarikan terumbu karang, proses ini dapat atau dapat juga disebut sebagai pembentukan lahan karena sedimen dan tanah yang ada, akan atau akan mempertahankan kemunduran garis tersebut. Pantai.

Sumber :

8